5 Lagu Batak yang Populer untuk Pernikahan, Penuh Makna dan Harapan
Pernikahan adat Batak tidak hanya identik dengan ulos, tortor, dan rangkaian prosesi adat, tetapi juga dengan tradisi bernyanyi. Dalam berbagai acara adat Batak atau ulaon adat, musik dan lagu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Bahkan, menyanyi bukan hanya dilakukan oleh musisi atau band pengiring, tetapi juga oleh orangtua, keluarga besar, hingga pasangan pengantin.
Bagi masyarakat Batak, lagu dapat menjadi media untuk menyampaikan perasaan, doa, nasihat, rasa syukur, hingga ungkapan kasih sayang. Tidak mengherankan jika dalam sebuah pesta pernikahan adat Batak, sesi bernyanyi dapat menjadi salah satu momen yang paling dinantikan.
Tradisi ini juga membuat suasana pernikahan menjadi semakin emosional. Sebuah lagu yang dinyanyikan orangtua untuk anaknya, misalnya, dapat menjadi bentuk doa dan restu sebelum sang anak memulai kehidupan rumah tangga. Sementara itu, lagu yang dinyanyikan pengantin dapat menjadi ungkapan terima kasih kepada orangtua sekaligus deklarasi cinta kepada pasangan.
Lantas, apa saja lagu Batak yang populer dan kerap dinyanyikan dalam acara pernikahan? Berikut lima di antaranya.
Mengapa Bernyanyi Begitu Dekat dengan Masyarakat Batak?
Kebiasaan bernyanyi dalam kehidupan masyarakat Batak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah lingkungan keluarga dan keagamaan. Banyak masyarakat Batak yang sejak kecil terbiasa mengikuti kegiatan gereja yang di dalamnya terdapat aktivitas bernyanyi, baik secara bersama-sama, melalui paduan suara, maupun secara solo.
Kebiasaan tersebut membuat aktivitas bernyanyi menjadi sesuatu yang akrab sejak usia dini. Selain di gereja, masyarakat Batak juga memiliki hubungan kekerabatan yang erat. Pertemuan keluarga dan kerabat kerap menjadi kesempatan untuk berkumpul, berbincang, bermain musik, dan tentu saja bernyanyi.
Musik akhirnya menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan berbagai macam perasaan. Rasa bahagia, haru, cinta, rasa syukur, hingga nasihat untuk anggota keluarga dapat disampaikan melalui lagu.

Tidak hanya bernyanyi, masyarakat Batak juga dikenal memiliki tradisi bermusik dan menciptakan lagu yang kuat. Hal tersebut semakin terasa ketika berbagai acara adat digelar. Musik dan lagu hadir untuk mengiringi prosesi sekaligus memperkuat pesan dan suasana dari setiap tahapan acara.
Dalam pernikahan, misalnya, sebuah lagu dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan.
1. Borhat Ma Dainang
Borhat Ma Dainang merupakan salah satu lagu yang sangat erat dengan prosesi pernikahan adat Batak, terutama ketika berlangsung mangulosi, yaitu prosesi pemberian ulos kepada pengantin.
Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh orangtua pengantin perempuan ketika memberikan ulos kepada kedua mempelai. Sebelum prosesi dimulai, orangtua biasanya menyampaikan nasihat dan doa kepada anaknya. Suasana kemudian menjadi semakin haru ketika lagu dinyanyikan bersamaan dengan pemberian ulos.
Secara emosional, momen ini menggambarkan perpisahan seorang anak perempuan dengan keluarganya ketika ia mulai menjalani kehidupan bersama pasangan. Karena itu, tidak jarang pengantin, orangtua, dan tamu undangan ikut meneteskan air mata.
Lagu yang diciptakan oleh S. Dis ini juga memiliki lirik yang sarat dengan umpasa atau ungkapan tradisional Batak. Isinya berupa doa dan harapan untuk kehidupan sang anak setelah menikah.
Salah satu penggalan yang terkenal menyampaikan harapan agar sang putri memperoleh kebahagiaan dan kelak dikaruniai anak.
Dengan makna tersebut, Borhat Ma Dainang bukan sekadar lagu pengiring prosesi, melainkan representasi kasih sayang, doa, dan keikhlasan orangtua ketika melepas anaknya menuju kehidupan baru.
2. Gabe Ma Ho Boru
Selain Borhat Ma Dainang, Gabe Ma Ho Boru juga kerap dinyanyikan dalam prosesi mangulosi, khususnya oleh orangtua pengantin perempuan.
Lagu ciptaan Tagor Tampubolon ini memiliki pesan yang sangat erat dengan restu orangtua. Melalui lagu tersebut, orangtua menyampaikan harapan agar pernikahan anaknya membawa kebahagiaan serta dijalani dengan penuh kasih dan tuntunan Tuhan.
Salah satu pesan penting dalam lagu ini adalah nasihat kepada sang anak agar dapat menjalani hubungan yang baik dengan keluarga pasangan, termasuk dengan mertua.
Makna tersebut membuat lagu ini terasa sangat relevan dalam sebuah pernikahan. Pernikahan dalam budaya Batak bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga mempertemukan dan menghubungkan dua keluarga besar.
Karena itu, ketika lagu ini dinyanyikan, pesan yang disampaikan tidak hanya ditujukan kepada pengantin perempuan. Lagu tersebut juga menjadi doa agar kedua mempelai dapat membangun rumah tangga yang harmonis dan menjaga hubungan baik dengan keluarga besar.
Kalimat yang mengiringi keberangkatan sang anak bersama pasangannya pun terasa seperti sebuah doa terakhir orangtua sebelum anak memulai babak kehidupan yang baru.
3. Burju Ni Dainang
Jika dua lagu sebelumnya banyak digunakan untuk menggambarkan doa dan restu orangtua, Burju Ni Dainang lebih sering menjadi pilihan pengantin untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada orangtua.
Secara harfiah, Burju Ni Dainang dapat dimaknai sebagai kebaikan seorang ibu. Lagu ini menjadi salah satu pilihan yang menyentuh ketika dibawakan oleh pengantin pada hari pernikahan.
Pernikahan merupakan momen ketika seorang anak memasuki fase kehidupan baru. Karena itu, menyanyikan lagu untuk orangtua dapat menjadi kesempatan bagi pengantin untuk mengingat kembali kasih sayang, pengorbanan, dan kebaikan yang telah diberikan selama bertahun-tahun.
Liriknya mengandung ungkapan terima kasih kepada ibu atas kebaikan dan perannya dalam kehidupan anak-anak. Dalam praktiknya, pengantin juga dapat menyesuaikan atau mengembangkan lirik tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada ibu dan ayah.
Ketika dinyanyikan langsung oleh pengantin di hadapan orangtua, lagu ini tentu memiliki daya emosional yang kuat. Tidak hanya membuat orangtua terharu, momen tersebut juga sering membuat keluarga dan tamu undangan ikut merasakan kehangatan hubungan antara anak dan orangtuanya.
4. Dongan Matua
Pernikahan tentu tidak lengkap tanpa lagu yang menggambarkan cinta antara kedua mempelai. Salah satu lagu yang populer untuk tujuan tersebut adalah Dongan Matua.
Secara harfiah, Dongan Matua berarti teman sampai tua. Judulnya sendiri sudah menggambarkan harapan mengenai kehidupan pasangan setelah menikah: bukan hanya bersama pada saat bahagia, tetapi juga menjadi teman hidup hingga usia senja.
Lagu ini menggambarkan dua orang yang sebelumnya memiliki kehidupan dan perasaan masing-masing, kemudian dipersatukan dalam ikatan cinta dan pernikahan.
Pesan tentang dua hati yang telah menyatu dan dipersatukan Tuhan membuat lagu ini sangat cocok dinyanyikan oleh pengantin untuk pasangannya.
Membawakan Dongan Matua dalam pesta pernikahan juga dapat menjadi bentuk pernyataan cinta yang sederhana tetapi bermakna. Pengantin dapat menyanyikannya bersama pasangan atau salah satu mempelai menyanyikannya sebagai persembahan khusus.
Di tengah rangkaian acara adat yang melibatkan keluarga besar, lagu seperti ini menjadi pengingat bahwa inti dari pernikahan tetaplah perjalanan dua orang yang memilih untuk menjalani hidup bersama.
5. Hodo Sasude
Lagu berikutnya adalah Hodo Sasude, sebuah lagu romantis yang dikenal melalui pasangan artis Batak Dorman Manik dan Rani Simbolon.
Secara garis besar, lagu ini menggambarkan ungkapan cinta seorang pria kepada perempuan yang dicintainya. Perasaan tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah janji untuk menjalani kehidupan bersama dalam ikatan pernikahan.
Pesan utama lagu ini adalah kesetiaan. Perasaan cinta yang dimiliki kedua pasangan digambarkan sebagai sesuatu yang tidak berubah dan tidak hilang. Janji tersebut kemudian diperkuat melalui simbol menggenggam tangan dan menyatukan janji yang telah diucapkan.
Karena memiliki nuansa romantis yang kuat, Hodo Sasude dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang ingin memberikan persembahan lagu kepada satu sama lain di hari pernikahan.
Lagu ini juga cocok menjadi bagian dari sesi hiburan setelah prosesi adat selesai. Ketika dinyanyikan oleh pengantin, keluarga dan tamu undangan biasanya dapat ikut menikmati suasana romantis sekaligus merayakan kebahagiaan pasangan.
Lagu Batak Bukan Sekadar Hiburan
Kelima lagu tersebut memperlihatkan bahwa tradisi bernyanyi dalam pernikahan Batak memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
Borhat Ma Dainang dan Gabe Ma Ho Boru, misalnya, dapat menjadi sarana orangtua menyampaikan doa dan restu kepada anak. Burju Ni Dainang menjadi ungkapan rasa terima kasih anak kepada orangtuanya. Sementara itu, Dongan Matua dan Hodo Sasude lebih menonjolkan ekspresi cinta serta komitmen pasangan.
Inilah yang membuat sesi bernyanyi dalam pesta pernikahan adat Batak terasa istimewa. Setiap lagu dapat memiliki konteks dan emosi yang berbeda, tergantung siapa yang menyanyikannya dan pada prosesi apa lagu tersebut dibawakan.
Menariknya, tradisi ini juga menunjukkan kuatnya hubungan keluarga dalam budaya Batak. Orangtua, anak, saudara, keluarga besar, dan tamu undangan dapat bersama-sama menjadi bagian dari sebuah pertunjukan musik yang spontan sekaligus penuh makna.
Bahkan, ketika pengantin menyumbangkan sebuah lagu, apresiasi dari keluarga dan tamu tidak jarang diberikan dalam bentuk tepuk tangan, sorakan, hingga pemberian uang sebagai bentuk penghargaan.
Pada akhirnya, lagu-lagu Batak dalam pernikahan bukan hanya soal melodi dan suara merdu. Di balik setiap lantunan lagu terdapat cerita tentang keluarga, kasih sayang, doa, restu, rasa syukur, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Karena itu, bagi pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan adat Batak, memilih lagu bukan sekadar menentukan lagu mana yang enak didengar. Pertimbangkan pula siapa yang akan menyanyikannya, kapan lagu tersebut dibawakan, serta pesan apa yang ingin disampaikan.
Dengan pilihan lagu yang tepat, setiap prosesi pernikahan dapat terasa semakin personal dan emosional. Sebuah lagu bahkan bisa menjadi kenangan yang terus melekat bagi pengantin dan keluarga, jauh setelah pesta pernikahan selesai.