Panduan Memilih Busana Pengantin Pria: Jas, Tuxedo, Beskap, hingga Tips Pilih Bahan

by adminidewe adminidewe
0 views

Panduan Memilih Busana Pengantin Pria: Jas, Tuxedo, Beskap, hingga Tips Pilih Bahan

Hari pernikahan merupakan salah satu momen ketika penampilan pria akan menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena pengantin pria akan berdiri berdampingan dengan pasangan selama prosesi, tetapi juga karena hampir setiap momen penting akan diabadikan melalui foto dan video.

Karena itu, memilih busana pengantin pria sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan model yang terlihat bagus di katalog. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, mulai dari konsep pernikahan, lokasi acara, waktu pelaksanaan, bentuk tubuh, bahan pakaian, hingga kombinasi warna aksesori.

Kesalahan memilih busana juga bisa terasa sepanjang acara. Jas yang terlalu ketat dapat membuat pengantin sulit bergerak, sedangkan bahan yang terlalu panas bisa membuat tubuh cepat berkeringat ketika harus berdiri berjam-jam di pelaminan.

Lantas, bagaimana cara memilih busana pengantin pria yang tepat?

Jas, Tuxedo, atau Beskap?

Hal pertama yang perlu ditentukan adalah jenis busana. Jangan sampai memilih tuxedo untuk acara yang konsepnya santai atau menggunakan jas formal ketika seluruh acara justru mengusung adat tradisional.

Jas atau suit merupakan pilihan yang paling fleksibel. Busana ini umumnya terdiri dari jas dan celana dengan bahan yang serasi. Karena desainnya relatif universal, jas bisa digunakan untuk berbagai konsep pernikahan, mulai dari akad, pemberkatan, resepsi semi-formal, hingga acara outdoor.

Keuntungan lainnya, jas lebih mudah digunakan kembali setelah menikah. Dengan mengganti kemeja, dasi, atau sepatu, jas yang sama masih dapat digunakan untuk acara formal lainnya.

Berbeda dengan jas, tuxedo memiliki karakter yang lebih formal. Ciri khasnya adalah detail satin pada bagian lapel dan biasanya juga terdapat detail satin pada sisi celana. Tuxedo umumnya dipadukan dengan bow tie dan lebih identik dengan acara formal pada malam hari.

Karena tampilannya sangat formal, tuxedo cocok untuk konsep resepsi yang memang mengarah ke black-tie atau pesta malam yang elegan.

Sementara itu, beskap menjadi pilihan bagi pasangan yang ingin menonjolkan unsur budaya Nusantara, khususnya dalam pernikahan dengan adat Jawa. Beskap biasanya dipadukan dengan kain jarik serta aksesori tradisional seperti blangkon atau penutup kepala sesuai konsep busana.

Pada busana tradisional, fokus penampilan tidak lagi terletak pada dasi seperti jas modern. Detail seperti bros, keris, kain batik, selop, dan aksesori tradisional justru menjadi bagian penting dari keseluruhan penampilan.

Jangan Terjebak Jas Terlalu Ketat

Setelah menentukan jenis busana, perhatian berikutnya harus diarahkan pada fitting.

Ada anggapan bahwa jas semakin bagus jika semakin ketat mengikuti bentuk tubuh. Padahal, jas pengantin yang terlalu ketat justru bisa membuat penampilan terlihat kurang nyaman.

Dua jenis potongan yang umum dijumpai adalah slim fit dan classic fit.

Slim fit memiliki potongan yang lebih mengikuti bentuk tubuh. Bagian dada dan pinggang dibuat lebih fitted, sementara celana biasanya memiliki bentuk yang lebih mengecil menuju bagian bawah atau tapered.

Potongan ini memberikan kesan modern dan rapi. Slim fit dapat menjadi pilihan bagi pria dengan tubuh relatif langsing atau atletis yang ingin mendapatkan siluet lebih tegas.

Namun, jangan memaksakan slim fit hanya karena ingin terlihat lebih kurus atau modern. Jika jas terlalu sempit, bagian kancing dapat terlihat tertarik dan muncul lipatan berlebihan. Akibatnya, jas justru terlihat kurang rapi ketika difoto.

Sementara itu, classic fit memberikan ruang lebih banyak pada bagian dada, pinggang, dan lengan. Celananya biasanya memiliki potongan yang lebih lurus.

Classic fit memberikan keleluasaan bergerak dan cenderung nyaman digunakan dalam acara panjang. Potongan ini juga dapat menjadi pilihan bagi pria yang mengutamakan kenyamanan atau memiliki tubuh lebih besar.

Yang paling penting bukan memilih slim atau classic hanya berdasarkan tren, melainkan mencari ukuran yang benar-benar sesuai dengan tubuh.

adfcfe068e2587ed4d7945338c7eda154767d32b-300x225 Panduan Memilih Busana Pengantin Pria: Jas, Tuxedo, Beskap, hingga Tips Pilih Bahan

Baju Pengantin Pria

Perhatikan Bagian Bahu

Ada satu bagian jas yang sangat menentukan apakah pakaian terlihat mahal dan rapi atau justru seperti pakaian pinjaman: bahu.

Jahitan bahu idealnya berada di sekitar ujung bahu alami pemakai. Jika jahitan terlalu turun, jas bisa terlihat kebesaran. Sebaliknya, jika terlalu naik, bagian bahu akan terlihat tertarik.

Panjang lengan juga perlu diperhatikan. Dalam banyak gaya formal, ujung lengan kemeja biasanya terlihat sedikit dari balik lengan jas.

Bagian belakang jas juga seharusnya tidak menghasilkan terlalu banyak lipatan ketika pemakai berdiri dalam posisi normal.

Karena itulah, jika memungkinkan, jas pengantin sebaiknya melalui proses fitting langsung. Jangan hanya mengandalkan ukuran S, M, L, atau XL karena ukuran tersebut dapat berbeda antarprodusen.

Pilih Bahan yang Tidak Membuat Gerah

Indonesia memiliki iklim tropis. Hal ini membuat pemilihan bahan menjadi sangat penting, terutama jika acara berlangsung pada siang hari atau di lokasi outdoor.

Salah satu pilihan yang menarik adalah wool ringan berkualitas tinggi. Jenis wool dengan serat yang lebih halus dapat memberikan tampilan formal sekaligus memiliki kemampuan mengatur kelembapan dan sirkulasi udara yang baik.

Angka seperti Super 120s atau Super 150s sering digunakan untuk menggambarkan tingkat kehalusan serat wool. Namun, angka yang lebih tinggi tidak otomatis berarti selalu lebih cocok untuk semua situasi. Untuk pernikahan, faktor konstruksi kain, berat kain, lapisan dalam, dan kondisi lokasi juga perlu diperhatikan.

Katun dapat menjadi alternatif untuk konsep pernikahan yang lebih santai. Material ini terasa ringan dan relatif breathable sehingga cocok untuk acara semi-formal pada siang hari.

Kemudian ada linen, yang terkenal sangat ringan dan memiliki sirkulasi udara baik. Bahan ini cocok untuk konsep seperti garden party atau beach wedding.

Kekurangannya cukup jelas: linen mudah kusut.

Jika ingin mendapatkan karakter adem dari linen tetapi tetap mempertahankan tampilan yang lebih rapi, kain campuran linen dengan katun atau material lain bisa menjadi alternatif.

Jangan Cuma Memikirkan Jas, Ingat Lapisan di Dalamnya

Bahan jas bukan satu-satunya penyebab tubuh terasa panas.

Kemeja, furing atau lining jas, kaus dalam, bahkan kaus kaki dapat memengaruhi kenyamanan.

Jas dengan lapisan yang terlalu tebal dapat terasa panas meskipun kain luarnya sebenarnya cukup breathable. Karena itu, tanyakan kepada penjahit atau penyedia jas mengenai jenis lining dan konstruksi pakaian.

Untuk pernikahan outdoor siang hari, pakaian yang terlalu banyak lapisan sebaiknya dipertimbangkan kembali.

Sementara itu, bahan sintetis tebal yang kurang breathable bisa membuat keringat lebih mudah terperangkap. Bukan berarti semua bahan sintetis otomatis buruk, tetapi karakter kain secara keseluruhan perlu diperhatikan.

Sesuaikan Warna Sepatu dengan Jas

Setelah busana utama beres, giliran sepatu dan dasi.

Untuk jas hitam, sepatu hitam merupakan pilihan yang paling aman. Jika menggunakan tuxedo, sepatu formal hitam dengan finishing mengilap dapat memperkuat karakter black-tie.

Jas navy memiliki fleksibilitas lebih besar. Sepatu hitam maupun cokelat tua dapat digunakan, tergantung tingkat formalitas dan aksesori lainnya.

Sementara itu, jas abu-abu gelap atau charcoal juga mudah dipadukan dengan sepatu hitam maupun cokelat tua.

Untuk busana bernuansa terang seperti khaki atau warna krem yang digunakan dalam pernikahan siang hari, sepatu cokelat muda atau tan dapat memberikan kesan lebih santai.

Prinsip sederhananya adalah jangan sampai sepatu terlihat seperti elemen yang berdiri sendiri. Warna sepatu sebaiknya masih memiliki hubungan visual dengan keseluruhan pakaian.

Bagaimana Memilih Warna Dasi?

Dasi tidak harus memiliki warna yang persis sama dengan jas.

Justru, sedikit perbedaan warna dapat membuat penampilan terlihat lebih berdimensi.

Jas navy misalnya dapat dipadukan dengan dasi burgundy, biru yang lebih terang, abu-abu, atau warna tertentu yang sesuai dengan tema dekorasi.

Jas charcoal dapat dipadukan dengan dasi hitam, navy, plum, atau warna lain yang tetap berada dalam palet formal.

Jika konsep pernikahan menggunakan warna pastel, jas berwarna terang dapat dipadukan dengan aksesori yang lebih lembut.

Untuk tuxedo, bow tie hitam tetap menjadi pilihan klasik yang paling identik dengan gaya black-tie.

Bagaimana dengan Beskap?

Jika menggunakan beskap, jangan mencoba menerapkan aturan busana jas modern secara mentah.

Beskap memiliki sistem estetika tersendiri. Kain jarik, blangkon, selop, keris, bros, dan aksesori lainnya justru menjadi bagian penting dari penampilan.

Untuk alas kaki, selop formal tertutup dapat digunakan sesuai dengan adat dan konsep busana. Warna hitam atau warna yang selaras dengan busana biasanya menjadi pilihan aman.

Yang paling penting adalah menjaga agar aksesori tidak saling berebut perhatian. Jika beskap sudah memiliki detail yang kuat, tambahan aksesori sebaiknya tetap dikontrol agar keseluruhan penampilan terlihat harmonis.

Jangan Lupa Menyesuaikan dengan Waktu dan Lokasi

Waktu dan tempat pernikahan sebenarnya dapat menjadi petunjuk utama dalam memilih pakaian.

Pernikahan malam di ballroom memungkinkan penggunaan busana yang lebih formal seperti tuxedo atau jas gelap. Sementara itu, pernikahan outdoor pada siang hari lebih cocok menggunakan material yang ringan dan breathable.

Untuk acara adat, busana tradisional tentu lebih relevan jika prosesi memang mengutamakan unsur budaya.

Pertimbangkan juga durasi acara. Jika pengantin harus berdiri atau berjalan selama berjam-jam, kenyamanan menjadi sangat penting.

Jangan sampai pakaian terlihat luar biasa hanya ketika berdiri selama lima menit di depan cermin, tetapi terasa menyiksa setelah dipakai selama enam jam.

Fitting Sebelum Hari H Itu Wajib

Idealnya, busana pengantin tidak baru dicoba pada hari pernikahan.

Lakukan fitting beberapa kali jika diperlukan. Coba duduk, berdiri, berjalan, mengangkat tangan, dan melakukan gerakan yang kemungkinan dilakukan selama acara.

Periksa apakah kancing terlalu tertarik, celana terlalu sempit, lengan jas terlalu panjang, atau sepatu terasa sakit.

Sepatu juga sebaiknya sudah dicoba sebelum hari H agar kaki tidak “berkenalan” dengan rasa sakit ketika harus berdiri sepanjang acara.

Pada akhirnya, busana pengantin pria yang tepat bukan sekadar pakaian yang terlihat bagus dalam foto. Pakaian tersebut harus sesuai dengan konsep pernikahan, proporsional terhadap tubuh, nyaman digunakan, dan mampu membuat pengantin pria tetap percaya diri dari awal prosesi hingga acara selesai.

Dengan memilih jenis busana, potongan, bahan, warna, dan aksesori secara seimbang, penampilan pengantin pria dapat terlihat elegan tanpa harus mengorbankan kenyamanan.

Artikel Favorit Lainnya