Berapa Anggaran Pernikahan Gen Z? Ini 7 Faktor yang Memengaruhi Biayanya
Pernikahan menjadi salah satu momen penting dalam kehidupan, tetapi mempersiapkannya membutuhkan perencanaan yang matang, terutama dari sisi finansial. Bagi Generasi Z atau Gen Z, pernikahan tidak selalu harus identik dengan resepsi megah dan dekorasi mewah. Sebagian pasangan lebih memilih perayaan intim yang sederhana, sedangkan lainnya ingin menghadirkan acara personal sesuai karakter dan perjalanan hubungan mereka.
Meski begitu, menentukan anggaran pernikahan bukan perkara mudah. Kenaikan biaya hidup, kebutuhan keluarga, serta inspirasi dari media sosial dapat memengaruhi ekspektasi calon pengantin terhadap pesta yang ingin diselenggarakan. Tanpa perencanaan yang realistis, pengeluaran pernikahan berpotensi mengganggu kondisi keuangan setelah acara selesai.
Survei JakPat pada Juni 2025 yang dilansir Katadata menunjukkan bahwa 41 persen anak muda Indonesia yang berencana menikah menganggap anggaran Rp50 juta hingga Rp100 juta sebagai kisaran ideal. Sementara itu, 32 persen memilih anggaran di bawah Rp50 juta. Responden lainnya memilih kisaran Rp100 juta hingga Rp250 juta sebanyak 16 persen, Rp250 juta hingga Rp500 juta sebanyak 7 persen, dan di atas Rp500 juta sebanyak 4 persen.
Survei tersebut melibatkan 798 responden dari kalangan Gen Z dan milenial yang berencana menikah. Angka tersebut menggambarkan preferensi responden, bukan standar biaya yang wajib diikuti setiap pasangan.
Lantas, apa saja faktor yang memengaruhi besarnya anggaran pernikahan Gen Z? Berikut tujuh hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan konsep acara.
1. Kenaikan Biaya Hidup
Kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika menyusun anggaran pernikahan. Perubahan harga barang dan jasa dapat memengaruhi pengeluaran sehari-hari sekaligus biaya operasional penyedia layanan pernikahan.
Dalam industri ini, dampaknya dapat berkaitan dengan harga bahan makanan untuk katering, transportasi, bunga, dekorasi, hingga kebutuhan logistik. Namun, kenaikan inflasi umum tidak berarti seluruh harga layanan pernikahan otomatis meningkat dengan persentase yang sama.
Bagi pasangan Gen Z yang sedang membangun kestabilan finansial, kondisi tersebut membuat perencanaan anggaran semakin penting. Calon pengantin perlu menghitung kemampuan keuangan berdasarkan tabungan dan penghasilan, bukan hanya mengikuti tren atau ekspektasi orang lain.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membandingkan penawaran beberapa vendor sebelum menentukan pilihan. Selain itu, sisihkan dana cadangan sekitar 10–15 persen dari anggaran acara untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak.
2. Jumlah Tamu Undangan
Jumlah tamu merupakan salah satu komponen yang berpengaruh besar terhadap biaya pernikahan. Semakin banyak orang yang diundang, semakin besar pula kebutuhan konsumsi, kapasitas tempat, suvenir, dan perlengkapan acara.
Karena itu, konsep micro wedding atau pernikahan dengan jumlah tamu terbatas menjadi alternatif bagi pasangan yang ingin merayakan momen istimewa bersama keluarga dan sahabat terdekat.
Meski demikian, mengurangi jumlah tamu tidak otomatis memangkas seluruh pengeluaran secara proporsional. Biaya fotografer, busana pengantin, tata rias, dan administrasi tertentu tetap dapat muncul meskipun acara diselenggarakan secara intim.
Bahkan, pernikahan dengan sedikit tamu bisa memiliki biaya per orang yang lebih tinggi apabila pasangan memilih tempat eksklusif atau layanan premium.
Sebelum menentukan daftar undangan, diskusikan bersama pasangan dan keluarga mengenai orang-orang yang ingin dilibatkan. Dengan begitu, jumlah tamu dapat disesuaikan dengan kapasitas anggaran tanpa mengabaikan kebutuhan keluarga maupun tradisi yang dianggap penting.

Anggaran Pernikahan
3. Pilihan Suvenir yang Lebih Fungsional
Suvenir menjadi salah satu elemen pernikahan yang dapat disesuaikan dengan kreativitas pasangan. Jika sebelumnya banyak pengantin memilih gantungan kunci atau pajangan dekoratif, kini tersedia berbagai alternatif yang lebih fungsional.
Salah satu ide yang menarik adalah memberikan paket bahan makanan, seperti sayuran segar, bumbu dapur, atau produk lokal. Selain berbeda dari suvenir pada umumnya, pilihan tersebut dapat memberikan manfaat praktis bagi penerimanya.
Namun, suvenir fungsional tidak selalu lebih murah. Biaya tetap bergantung pada jenis barang, jumlah pesanan, desain kemasan, dan kebutuhan distribusi.
Untuk bahan makanan segar, pasangan juga perlu mempertimbangkan penyimpanan dan waktu pembagian agar kualitasnya tetap terjaga. Alternatif lainnya adalah produk tahan lama yang dapat digunakan atau dikonsumsi setelah acara.
Kuncinya, pilih suvenir yang sesuai dengan anggaran dan konsep pernikahan. Tidak perlu memaksakan hadiah mahal hanya demi terlihat mewah karena nilai sebuah suvenir juga terletak pada manfaat dan perhatian yang diberikan.
4. Fotografi dan Konten Media Sosial
Bagi banyak pasangan Gen Z, dokumentasi menjadi bagian penting dari pengalaman pernikahan. Foto dan video bukan sekadar pelengkap acara, melainkan cara untuk menyimpan kenangan yang dapat dilihat kembali bertahun-tahun kemudian.
Selain fotografer dan videografer, muncul pula layanan wedding content creator yang berfokus pada dokumentasi spontan untuk media sosial. Layanan ini biasanya membantu mengabadikan suasana di balik layar, momen persiapan, hingga potongan video singkat yang dapat dibagikan dengan cepat.
Meskipun menarik, menggunakan banyak penyedia dokumentasi sekaligus dapat meningkatkan biaya. Karena itu, pasangan perlu menentukan jenis hasil yang paling dibutuhkan sebelum memilih vendor.
Jika foto keluarga dan prosesi sakral menjadi prioritas, pastikan layanan tersebut tersedia terlebih dahulu. Sementara itu, konten spontan atau video tambahan dapat disesuaikan dengan anggaran yang tersisa.
Perhatikan juga durasi kerja, jumlah kru, jenis hasil akhir, serta waktu penyerahan materi. Dengan membandingkan cakupan layanan, pasangan dapat menghindari pengeluaran untuk beberapa jasa yang memiliki fungsi serupa.
5. Konsep Dekorasi dan Busana yang Personal
Gen Z memiliki banyak pilihan untuk mengekspresikan karakter melalui konsep pernikahan. Mulai dari dekorasi minimalis, palet warna yang tidak konvensional, busana modern, hingga detail yang terinspirasi dari perjalanan hubungan pasangan.
Namun, konsep sederhana tidak selalu berarti murah. Dekorasi minimalis dengan bunga premium, material khusus, atau busana rancangan desainer dapat membutuhkan biaya yang cukup besar.
Sebaliknya, resepsi yang terlihat megah juga dapat disesuaikan dengan anggaran melalui pemilihan material, penggunaan dekorasi secara strategis, dan pemanfaatan elemen yang sama di beberapa area.
Agar pengeluaran tetap terkendali, tentukan bagian yang paling ingin ditonjolkan. Misalnya, pasangan dapat memusatkan anggaran dekorasi pada pelaminan atau area foto tanpa harus menghias setiap sudut ruangan secara berlebihan.
Prinsip serupa berlaku untuk busana pengantin. Menyewa pakaian atau memilih desain yang lebih sederhana dapat menjadi alternatif jika membeli busana khusus tidak termasuk prioritas utama.
6. Anggaran Bulan Madu dan Perjalanan
Pernikahan bukan satu-satunya kebutuhan yang perlu dibiayai setelah pasangan memutuskan menikah. Sebagian calon pengantin juga ingin melakukan perjalanan bulan madu atau mengunjungi destinasi impian bersama pasangan.
Keinginan tersebut memengaruhi pembagian anggaran antara resepsi dan pengalaman setelah pernikahan. Bulan madu ke luar negeri, misalnya, membutuhkan perencanaan tiket pesawat, penginapan, transportasi lokal, makanan, dan biaya aktivitas selama perjalanan.
Sementara itu, perjalanan domestik atau bulan madu sederhana dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang ingin menikmati waktu bersama tanpa mengeluarkan biaya terlalu besar.
Pernikahan di luar kota juga perlu dihitung secara cermat. Walaupun jumlah tamunya lebih sedikit, pengeluaran untuk transportasi, akomodasi, dan koordinasi vendor dapat membuat total biaya meningkat.
Solusinya, pisahkan anggaran resepsi dan bulan madu sejak awal. Diskusikan pengalaman yang paling berarti bagi kedua pihak, kemudian tentukan alokasi dana berdasarkan kemampuan finansial.
7. Pengalaman Tamu Selama Acara
Selain dekorasi dan dokumentasi, pengalaman tamu menjadi faktor lain yang dapat memengaruhi anggaran pernikahan. Sebagian pasangan ingin menghadirkan suasana yang lebih interaktif melalui photo booth, foto instan, hiburan musik, atau permainan yang melibatkan undangan.
Pilihan tersebut dapat membuat acara terasa lebih personal dan memberikan kesempatan bagi tamu untuk berinteraksi. Namun, setiap tambahan memiliki konsekuensi terhadap biaya.
Penyedia hiburan, peralatan, kebutuhan ruang, dan kru pendukung dapat menambah pengeluaran di luar paket tempat serta katering.
Karena itu, pasangan sebaiknya menentukan suasana yang ingin dibangun sebelum memilih hiburan. Untuk pernikahan intim, misalnya, tata ruang yang nyaman dan musik yang mendukung percakapan mungkin lebih sesuai daripada menghadirkan banyak atraksi sekaligus.
Pengalaman tamu juga tidak selalu ditentukan oleh kemewahan. Konsumsi yang memadai, alur acara yang tertata, tempat duduk yang nyaman, dan sambutan hangat dapat memberikan kesan positif tanpa harus menambah banyak biaya.
Tips Mengatur Bujet agar Tidak Membebani Setelah Menikah
Setelah menentukan konsep acara, pasangan perlu menetapkan batas maksimal pengeluaran berdasarkan kondisi keuangan yang sebenarnya. Jangan menggunakan seluruh tabungan hanya demi menyelenggarakan pesta karena kehidupan rumah tangga tetap membutuhkan dana untuk tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan keadaan darurat.
Buat daftar kebutuhan berdasarkan prioritas, lalu minta penawaran tertulis dari beberapa vendor. Periksa pula biaya tambahan, ketentuan pembayaran, serta kebijakan pembatalan sebelum menandatangani kontrak.
Pasangan juga dapat mempertimbangkan menabung bersama. Survei JakPat yang dilansir Katadata menunjukkan bahwa 45 persen responden mengandalkan tabungan pribadi sebagai sumber pendanaan utama, sedangkan 40 persen memilih menabung bersama pasangan.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan keuangan sebelum menikah. Meski demikian, setiap pasangan tetap perlu menyepakati pembagian kontribusi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Kesimpulan
Anggaran pernikahan Gen Z dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari kenaikan biaya hidup, jumlah tamu, pilihan suvenir, dokumentasi, dekorasi, bulan madu, hingga pengalaman yang ingin diberikan kepada undangan.
Kisaran Rp50 juta hingga Rp100 juta memang menjadi pilihan ideal bagi 41 persen responden dalam survei JakPat yang dilansir Katadata pada Juni 2025. Namun, angka tersebut bukan patokan mutlak karena kebutuhan setiap pasangan berbeda.
Pernikahan yang berkesan tidak harus selalu identik dengan resepsi mewah. Dengan menentukan prioritas, menyusun anggaran realistis, dan menyisihkan dana cadangan, pasangan dapat merayakan hari istimewa tanpa mengorbankan kestabilan keuangan.
Pada akhirnya, tujuan pernikahan bukan hanya menyelenggarakan satu hari perayaan, melainkan memulai kehidupan bersama dengan kesiapan emosional dan finansial yang lebih baik.